Wikipedia

Search results

Saturday, 30 March 2013

RENUNGAN PASKA 2013 Mengapa kekerasan tak kunjung henti?


RENUNGAN PASKA 2013 dari Mgr Johannes Pujasumarta

Kamis, 28 Maret 2013 16:30 WIB
RENUNGAN PASKA 2013 dari Mgr Johannes Pujasumarta
[Dok.HIDUP]
Mgr Johannes Pujasumarta, Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (Sekjen KWI)


Ancaman kekerasan dan tindak kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah tidak hanya terjadi pada zaman dulu, ketika Yesus yang tidak bersalah, dijatuhi hukuman mati disalib. Pada zaman kita peristiwa-peristiwa kekerasan begitu mudah terjadi, dan menjadi berita dukacita yang sampai kepada kita setiap hari melalui berbagai media komunikasi. Tak terhitung peristiwa kekerasan dalam keluarga, yang tidak diberitakan melalui media publik. Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan keprihatinannya atas peristiwa kekerasan di Lembaga Pemasyarakatan, Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang terjadi pada Sabtu dinihari, 23 Maret 2013, yang lalu katanya, "Saya prihatinkan penyerangan lapas. Tapi juga mengapa kekerasan selalu muncul di Daerah Istimewa Yogyakarta,"

Ngersa Dalem..., kekerasan tidak hanya di Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi di mana-mana. Saya juga sangat prihatin mendengar berita tentang kekerasan yang dialami oleh jemaat-jemaat Kristiani karena kekerasan dijadikan ancaman dan dilakukan untuk menangani masalah-masalah pembangunan tempat-tempat ibadat dan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh jemat-jemaat Kristiani tersebut. Dua bulan terakhir selama tahun 2013 telah tercatat 15 kasus, melanjutkan kasus-kasus tahun 2012 yang berjumlah 75. Kasus-kasus itu merupakan bagian dari total tempat-tempat ibadat yang diganggu atau dirusak, sejak rezim Soekarno sampai rezim Susilo Bambang Yudhoyono, sebanyak 1.250 buah. 

Yang lebih memrihatinkan lagi ialah bahwa pelaku kekerasan itu adalah warga masyarakat sendiri, yang bahkan didukung oleh pihak-pihak tertentu yang seharusnya menjamin keamanan di negeri ini. Sikap intoleran yang disertai dengan perilaku kekerasan yang dibiarkan itu telah mengantar kita pada situasi kacau balau, khaotic, karena premanisme. Kita telah berada dalam arus spiral kekerasan yang akan membuahkan kematian. 


Orang benar tetap hidup meskipun dibunuh


Pada peristiwa Yesus arus spiral kekerasan dipersonifikasi dalam diri -Nya yang mati karena menjadi korban kekerasan, yang dilakukan oleh penguasa agama yang bersekongkol dengan penguasa politik pada waktu itu. Oleh-Nya tuduhan-tuduhan palsu dijawab dengan diam, karena dialog tidak bisa dilakukan kalau ada kekerasan. Ketika kekerasan tidak tahan mendengarkan suara kebenaran dalam diam itu, kekerasan akan berbuah kematian, kematian kebenaran, yang seakan-akan membuat lega para pelaku kekerasan. Ya lega untuk sementara! Karena kebenaran adalah kebenaran. 

Pada peristiwa kematian Yesus kebenaran sejati yang berasal dari Allah diakui oleh kepala pasukan yang menyaksikan peristiwa kematian Yesus disalib. Oleh Lukas dituturkan, bahwa kematian Yesus menjadi kesempatan bagi kepala pasukan itu untuk memuliakan Allah, katanya: “Sungguh orang ini adalah orang benar!” (Luk. 23:47) Orang benar tetap hidup meskipun dibunuh. Itulah kehidupan baru yang dimiliki oleh Yesus, yang melalui kematian –Nya dilantik menjadi Tuhan dan Kristus, karena Allah telah membangkitkanNya dari orang mati.

Kekerasan bukan solusi menyelesaikan masalah.


Dalam ruang publik yang tuna adab karena kekerasan, tidak dibenarkan kita, yang adalah anak-anak kebangkitan, melakukan kekerasan untuk melawan kekarasan. Kekerasan bukan solusi menyelesaikan masalah.

Paska Kristus mengamanatkan kepada kita untuk mengubah hati kita yang keras membatu menjadi hati yang manusiawi, yang mampu mendengarkan suara kebenaran, dan bahkan memperjuangkan kebenaran dengan semangat martyria.

Semoga daya kebangkitan Tuhan menjadi kekuatan bagi kita mengubah budaya kekerasan menjadi budaya kelembutan yang berdasar pada kebenaran, keadilan dan kasih. 
Selamat Paska! 

Salam, doa dan Berkah Dalem,

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Agung Semarang

Wednesday, 27 March 2013

Siapa itu Paus Fransiskus?


Siapa itu Paus Fransiskus? thumbnail

Mungkin semua orang sependapat bahwa pemilihan Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus Fransiskus merupakan hal yang tak terduga dalam banyak cara. Namun, ini tidak sepenuhnya merupakan suatu kejutan. Bergoglio adalah orang nomor dua setelah Joseph Ratzinger dalam konklaf yang digelar tahun 2005, yang memilih Paus Benediktus XVI.
Bergoglio adalah imam dari Serikat Yesus, orang Amerika Latin dan paus pertama dari wilayah bagian selatan. Ia memiliki orangtua yang adalah warga migran asal Italia. Tetapi, ia bukan “orang Italia” atau kardinal dari Kuria karena ia tidak pernah berkarya di Vatikan.
Ia dianggap sebagai seorang gembala yang memiliki pandangan konservatif di bidang teologi, namun ia memiliki wawasan yang luas, khususnya perhatiannya akan kebutuhan orang-orang miskin. Hal ini mencerminkan komitmen akan kesederhanaan yang nampak dalam gaya hidupnya sendiri.
Bisa dikatakan bahwa waktu dan kekuatan yang membentuknya, karya yang dilakukannya dan berbagai tantangan yang dihadapinya telah mempersiapkan dirinya dengan baik untuk menjadi paus.
Dibesarkan di masa fasisme dan sosialisme – sebuah pergumulan politik yang dibuat sedemikian unik untuk Argentina oleh Juan Peron – Bergoglio masuk Serikat Yesus tahun 1950-an. Tidak seperti biasanya, ia dipilih sebagai Provinsial Serikat Yesus di Argentina ketika berumur 30-an – sejak 1973 hingga 1979.
Tahun 1970-an merupakan tahun-tahun di mana para imam Serikat Yesus di Argentina tercerai-berai oleh perpecahan dan konflik. Banyak imam Serikat Yesus menanggalkan imamat mereka. Konflik ini sangat berkaitan dengan petunjuk untuk kongregasi dan Gereja – seperti Teologi Pembebasan yang menyeruak di Amerika Latin – dan juga politik setempat. Konflik politik seputar Juan Peron dan penerusnya yang terjadi selama beberapa dekade memecah-belah masyarakat Argentina dan juga para imam Serikat Yesus.
Pada masa itu, menyatukan para imam Serikat Yesus di Argentina bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Namun, Bergoglio terlibat aktif dalam memberikan perubahan dalam tubuh Serikat Yesus dengan adanya dorongan dari dunia luar. Keputusan akhir dicapai tahun 1975 dalam sebuah pertemuan luar biasa para petinggi kongregasi – sebuah Rapat Umum. Bergoglio terlibat aktif dalam proses ini.
Petunjuk yang ditetapkan oleh Serikat Yesus memicu kemarahan Vatikan. Tahun 1981, Yohanes Paulus II menetapkan kepala kongregasi, Pedro Arrupe, dan mengangkat seorang pengawas untuk melakukan penyelidikan, dan jika perlu, membenahi segala ekses yang muncul.
Kira-kira di waktu yang sama, militer yang dikalahkan oleh UK atas sengketa Kepulauan Malvinas/Falklands mulai menghilangkan kediktatoran militer dan memulihkan demokrasi.
Bergoglio dikritik atas sikapnya yang mencolok selama rezim diktator di Argentina selama periode ini. Namun, ia memimpin publik dalam meminta Gereja untuk menyampaikan permohonan maaf atas kebisuannya selama “perang yang kotor” itu dan “ketidakhadirannya” selama kediktatoran militer berlangsung.
Bergoglio menjadi uskup sejak 1992 dan uskup agung Buenos Aires sejak 1998. Keuskupan agung ini bukanlah yang terbesar di Amerika Latin, yang memberinya pengalaman di bidang politik selama 15 tahun. Namun, sebagai seorang warga Argentina, permainan ekonomi menjadi hal yang utama.
Masa di mana ia memimpin keuskupan agung dan para imam Serikat Yesus selama pergolakan yang terjadi tahun 1970-an seharusnya  bisa mengarahkannya untuk menjawab secara tepat persoalan yang ada, menghargai proses yang dibutuhkan untuk suatu perubahan sistematis, dan memikirkan orang-orang yang dibutuhkannya untuk mewujudkan perubahan itu.
Terkait nama Fransiskus yang dipilihnya, Bergoglio ingin mengingat kenangan Fransiskus dari Asisi. Ia mungkin juga mengenang beberapa nama lain – dua Yesuit yakni Fransiskus Xaverius dan Francis Borgia, seorang duda dan ayah dari sebuah keluarga besar dan Bangsawan dari Gandia yang masuk Serikat Yesus saat paruh baya dan karena pengalaman administratifnya langsung menduduki jabatan tinggi.
Sekarang tinggal menunggu apakah orang luar yang cerdas dan berpengalaman bisa menjalankan tugas dalam mereformasi Kuria dan mendekatkan proses Gereja yang lebih luas pada perubahan seperti yang diinginkan oleh Konsili Vatikan II.
Pastor  Mick Kelly SJ adalah Direktur Eksekutif  ucanews.com

Thursday, 27 December 2012

Peduli dengan orang miskin, seorang pastor rela tinggal di kawasan kumuh


20/11/2012 Peduli dengan orang miskin, seorang pastor rela tinggal  di kawasan kumuh thumbnail

Pada hari Minggu pagi, Pastor Pete Montallana OFM mempersembahkan Misa di ruang terbuka di tengah gubuk yang membuat sebagian umat  basah kuyup.
Pastor Montallana tidak tinggal di luar, tapi ia sendiri tinggal di ruang yang disewa dengan harga 1.500 peso per bulan ($ 36) di tengah-tengah perkumuhan Quezon City. Kamar mandinya berbagi dengan puluhan warga lain.
Pastor Montallana menjadi milik Ordo Saudara-Saudara Dina yang memiliki karisma untuk hidup dengan orang miskin.
Sejak ia belajar teologi tahun 1970-an, imam berusia 62 tahun itu mengatakan ia telah “masuk” ke pemukim kumuh, beberapa kali.
“Tapi, tidak semua imam melakukan pekerjaan seperti ini. Ini adalah rahmat, sebuah karunia dari Tuhan,” kata Pastor Montallana di kamar gubuknya di lantai kedua.
Misinya sederhana: untuk memelihara iman umat dan membantu mereka menyadari hak-hak mereka sebagai penduduk miskin kota.
Pada Desember tahun lalu, imam itu mengumpulkan orang-orang untuk Simbang Gabi, Misa sembilan subuh yang berpuncak pada Hari Natal. Dia juga mengadakan rekoleksi untuk keluarga dan memberikan seminar tentang hak asasi manusia.
Dari pertemuan ini muncul sebuah komunitas basis Gerejawi yang bertemu setiap hari Sabtu di kamar Pastor Montallana yang sempit untuk merefleksikan perjuangan rakyat berbasis Injil.
“Mereka ‘labil, tapi mereka akan tumbuh bersama seiring dengan perjalanan waktu,” kata Pastor Montallana.
Imam itu menambahkan bahwa ia menerapkan homilinya, saat ia bangun pagi ia menyapa tetangganya yang berprofesi sebagai tukang becak, sopir bajaj, pemulung, dan penyapu jalan.
“Diberikan kesempatan untuk mendengar firman Allah, orang akan berubah,” katanya. “Saya bisa merasakan perubahan dalam hal kesadaran.”
Sementara mengais-ngais plastik yang dibawakan oleh banjir melalui komunitas itu, anak jalanan menemukan sebuah janin di antara sampah, dan memutuskan untuk menguburnya. Ketika tetangga meninggal, semua orang membantu.
Setelah banjir yang merendam rumah-rumah mereka, mereka kembali dan melanjutkan kehidupan mereka sehari-hari.
“Ada begitu banyak manusia di sini. Dan ini adalah misteri dalam kehidupan masyarakat miskin kota,” kata imam Fransiskan.
Pastor Montallana mengatakan ia mengalami semacam “pencerahan” pada November tahun lalu setelah api melalap sebuah pemukiman kumuh tidak jauh dari biaranya.
“Saya gelisah. Bagaimana saya bisa tidur dengan nyaman di biara. Api itu menjadi tantangan bagi saya untuk fokus pada orang miskin,” katanya. Dia meminta cuti satu tahun kepada atasannya untuk pergi ke pemukim kumuh serta hidup dan bergabung dengan orang-orang tersebut.
Pastor Montallana tidak menghabiskan seluruh waktunya di daerah kumuh. Dia pergi ke pegunungan dan bekerja dengan masyarakat adat yang berjuang untuk tanah mereka.
Cutinya sepanjang tahun untuk “tinggal di luar” berakhir bulan ini. Dia berencana untuk pindah ke kawasan kumuh lain dan memulai satu tahun lain “persekutuan meja” dengan orang miskin.
“Di antara orang miskin, saya melihat Tuhan sendiri,” katanya.
Sumber: Priest serves ‘the least of these’ among Philippine poor

S ebagai orang Katolik, presiden baru Korea Selatan perlu respek terhadap ajaran Gereja

e

24/12/2012 Sebagai orang Katolik, presiden baru Korea Selatan perlu respek terhadap ajaran Gereja thumbnail

Banyak hati orang Katolik akan tertegun ketika berita muncul pada 19 Desember bahwa Juliana Park Geun-hye telah memenangkan pemilu presiden Korea Selatan.
Dengan hanya satu atau dua pengecualian, wanita itu memiliki pandangan yang diametris menentang komunitas Katolik, dengan mendukung isu-isu seperti hukuman mati, pembangunan pabrik nuklir baru, perjanjian perdagangan bebas, proyek bendungan Five Rivers dan pangkalan angkatan laut Jeju.
“Ini sangat disayangkan,” kata Pastor Jang Dong-hun kepada ucanews.com.
Pada Oktober, sebagai sekretaris Komite Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Korea Selatan, Pastor Jang mengirim kuesioner tentang isu-isu sosial dan politik kepada para kandidat presiden, untuk meminta pendapat mereka terutama terkait ajaran Gereja dengan isu-isu tersebut.
Hanya salah satu kandidat tidak menjawab. Kandidat tersebut adalah Park, kini presiden terpilih.
Namun, pendapatnya dapat diamati melalui berbagai pidato dan deklarasi. Dia adalah pendukung hukuman mati dan perjanjian perdagangan bebas. Dia juga mendukung pembangunan pangkalan angkatan laut raksasa di Pulau Jeju.
Terkait proyek Five Rivers sangat kontroversial dia tetap diam, dan ia tampak berhati-hati mengenai gagasan membangun lebih banyak reaktor nuklir.
Pastor Jang merasa khawatir bahwa rezim itu akan berlanjut dan bahkan melanjutkan apa yang dimulai oleh pendahulunya.
“Selama lima tahun terakhir di bawah Presiden Lee Myong-bak, uang menjadi faktor utama dalam masyarakat Korea, sementara hal lain diabaikan.”
Park, 61, adalah putri dari Mendiang Presiden Park Chung-hee, yang memerintah Korea Selatan dengan tangan besi dari tahun 1961, ketika ia memimpin kudeta militer, hingga tewas terbunuh tahun 1979.
Dia merintis industrialisasi Korea dan dipercaya oleh banyak orang karena memimpin negara itu keluar dari kemiskinan menuju kemakmuran yang kini dirasakan. Tapi, dia juga mengabaikan hak asasi manusia dan demokrasi.
Gereja Katolik umumnya menentang kediktatoran dan beberapa klerus termasuk mendiang Uskup Daniel Tji Hak-soon dari Wonju yang dipenjara.
Park Chung-hee mengaku tidak beragama dan tampaknya tidak menyukai segala bentuk agama. Putrinya dibaptis sebagai seorang Katolik saat menjadi mahasiswi di Universitas Sogang, yang dikelola Yesuit, namun dalam beberapa tahun terakhir dia juga mengatakan ia tidak beragama.
Sejumlah umat Katolik menanggapi berbeda terkait hasil pemilu tersebut.
Fabiano Choi Hong-jun, ketua Dewan Kerasulan Awam Katolik Korea, mengatakan bahwa lebih dari setengah pemilih mendukung Park, itu bisa menjadi sesuatu yang baik untuk membawa persatuan nasional. Dalam pemilu sebelumnya, tidak ada jumlah suara mayoritas.
Dia mengungkapkan harapan bahwa “Park hendaknya merangkul lawan-lawannya dan membuat masyarakat di mana orang dapat percaya dan berkomunikasi satu sama lain.”
“Sebagai seorang pemimpin Katolik, saya berharap ia melakukan hal yang lebih penting terkait ajaran Katolik dan membuat masyarakat menghormati kehidupan dan hak asasi manusia.”
Park telah berjanji untuk memberikan lebih banyak perhatian pada “ekonomi akar rumput,” khususnya perempuan. Tapi, Elizabeth Choi Geum-ja, perwakilan dari Komunitas Perempuan Katolik Korea untuk Dunia Baru, merasa skeptis.
“Park adalah seorang wanita, tapi saya tidak yakin apakah dia adalah ‘presiden wanita yang dipersiapkan’ karena ia tidak memiliki kebijakan feminis,” katanya.
Pastor Jang menunjukkan  sangat jelas tentang sikap Gereja terhadap presiden baru itu. “Juliana Park terpilih karena halo (mitos) Park Chung-hee’ yang disebut sebagai pemujaan uang yang mendominasi rakyat Korea,” katanya.
“Dalam situasi ini, Gereja kita memiliki tanggung jawab sejarah untuk mengubah arus dengan membawa obor keadilan dan kebaikan bersama,” tambahnya.
Sumber: Election result brings gloom to Church leaders

Uskup ikut campur tangan terkait pencari suaka politik


12/12/2012 Uskup ikut campur tangan terkait pencari suaka politik thumbnail

Jumlah warga Tamil dan imigran ilegal lainnya dari utara Sri Lanka yang menjadi pencari suaka di Australia terus meningkat, meskipun bahaya dalam perjalanan dan hampir pasti mereka akan ditangkap dan dideportasi jika mereka bertahan hidup di negara kanguru itu.
Banyak orang memilih untuk meninggalkan negaranya untuk menghindari diskriminasi yang terus menerus dan penyiksaan oleh pasukan militer, polisi dan intelijen, demikian ungkap salah satu prelatus Sri Lanka.
Uskup Joseph Rayappu dari keuskupan Mannar telah menulis surat bulan ini kepada para pejabat di Australia memohon mereka untuk tidak mendeportasi para imigran Tamil ilegal dan sebaliknya memberikan suaka politik kepada mereka.
“Ini adalah pendapat saya yang menganggap bahwa hal itu sangat berbahaya bagi para pencari suaka dari utara dan timur Sri Lanka yang akan dipulangkan ke [negara] mereka, akibat situasi politik yang masih tegang di wilayah itu,” tulis Uskup Joseph dalam surat tersebut, yang dikirim pada 3 Desember.
“Saya menyampaikan penghargaan yang tinggi dan berterima kasih kepada pemerintah Australia atas kebaikan yang ditunjukkan kepada para pencari suaka dari Sri Lanka dengan menampung mereka. Saya mendukung perlindungan politik yang diberikan kepada para pencari suaka oleh pemerintah Australia.”
Pemerintah Sri Lanka segera menanggapi surat tersebut. Sumber-sumber Gereja yang tidak menyebutkan namanya mengatakan para pejabat dari Divisi Investigasi Kriminal mempertanyakan isi surat Uskup Joseph tertanggal 7 Desember itu dan apakah itu bisa dilihat untuk menodai citra pasukan keamanan negara itu.
Tahun ini warga Sri Lanka tiba di Australia berjumlah 6.192 dengan menggunakan perahu,  511 telah dikembalikan, demikian pemerintah.
Sekitar 90 persen dari para pengungsi itu adalah warga Tamil.
Pastor Anthony Victor Sosai, vikjen keuskupan Mannar, mengatakan banyak warga Tamil meminta bantuan kepada uskup itu.
“Pengungsian, ancaman, pengangguran dan takut penyiksaan merupakan masalah umum bagi mereka,” katanya.
“Ini adalah sebuah seruan yang bersifat umum tanpa melakukan diskredit.”
Sekitar 100.000 warga Tamil tetap terlantar dan tanpa tempat tinggal selama lebih dari tiga tahun setelah perang saudara berdarah Sri Lanka berakhir, dan dalam banyak kasus, karena tanah mereka telah dirampas oleh militer, kata anggota parlemen oposisi dan pengacara MA Sumanthiran.
“Saya pergi ke tempat lain sehingga saya bisa memanfaatkan kesempatan untuk mencari suaka politik,” katanya Jesudasan, 45, ayah dari tiga anak.
Ia ditangkap dan tetap dalam tahanan, karena kasus pengadilannya telah ditunda beberapa kali.
Dia termasuk dalam sebuah kelompok yang berjumlah lebih dari 100 orang yang dipukul oleh polisi dan pasukan keamanan karena mereka mendukung pihak oposisi selama pemilihan gubernur tahun ini.
Komandan Kosala Warnakulasuriya, seorang juru bicara media Angkatan Laut Sri Lanka Media, mengatakan peningkatan kasus-kasus migrasi ilegal, telah berkurang terkait kondisi politik atau sosial di negara itu.
Ia mengatakan kepada media lokal bahwa kelompok-kelompok lobi pro-Tamil telah menggunakan isu itu untuk mendiskredikan pemerintah Sri Lanka.
Sumber: Bishop intervenes on behalf of Tamil asylum seekers

Warga suku Garo merasa beruntung masuk Katolik


27/12/2012 Warga suku Garo merasa beruntung masuk Katolik thumbnail

Satu setengah abad setelah suku Garo, Bangladesh menyaksikan konversi pertama menjadi Katolik oleh para misionaris, kini jumlah penganutnya terus berkembang.
Agama Katolik telah menjadi bagian besar dari pelestarian budaya suku Garo, kata Tapan Marak, seorang pemimpin dari kelompok minoritas adat ini.
Tahun 1910, orang-orang suku Garo pertama masuk Katolik, dan saat ini dari 120.000 warga Garo Bangladesh, 80 persen dari mereka adalah Katolik.
“Kami telah menemukan iman baru di dalam Kristus, tetapi kami tidak melupakan tradisi kami,” kata Marak.
Salah satu pengaruh positif kekristenan Barat pada suku Garo adalah pengenalan huruf Romawi yang digunakan untuk menerjemahkan bahasa Garo, yang sebelumnya tidak memiliki bentuk tertulis.
Saat ini, ada teks-teks liturgi dalam bahasa minoritas, serta lagu serta paper penelitian, dan anak-anak Garo belajar dalam bahasa mereka sendiri di sekolah dasar.
“Tanpa menganut agama Katolik, saya tidak berpikir orang-orang Garo bisa bertahan hidup dengan baik di dunia,” kata seorang pemimpin suku BF Rongdi.
Dari 45 etnis minoritas Bangladesh, Garo dianggap di antara yang paling terdidik dengan tingkat baca-tulis lebih dari 80 persen dibandingkan rata-rata nasional 65 persen.
Sekitar 16.000 dari suku itu telah bermigrasi ke Dhaka untuk mencari pekerjaan di mana mereka lebih baik dibandingkan mayoritas orang Bangladesh pedesaan yang menuju ke ibukota itu.
Banyak pria bekerja untuk LSM, sedangkan wanita cenderung bekerja di pabrik-pabrik garmen atau salon kecantikan di mana mereka sering meningkat dengan cepat dan tercatat bekerja keras.
Pekan lalu, 5.000 migran Garo berkumpul di Dhaka untuk merayakan festival tradisional panen mereka, Wangala, dengan Misa inkulturasi.
Promod Mankin, Menteri Negara Urusan Kebudayaan dan Menteri Kesejahteraan Sosial, yang bukan hanya satu-satunya anggota parlemen Garo di Bangladesh, ia juga satu-satunya orang Katolik di parlemen dan telah terpilih tiga kali.
Status meningkat dari suku Garo dalam masyarakat Bangladesh adalah bertentangan dengan reputasi suku itu yang hidup sebelumnya.
Hidup di lereng bukit di Bangladesh jaman modern dan di negara bagian Meghalaya, India selama berabad-abad, penjajahan Inggris, berlabel minoritas di Asia Selatan di sebuah bukit suku yang “keji dan haus darah”.
“Umat Hindu menganggap mereka sebagai suku barbar dan mayoritas Muslim mengeksploitasi mereka karena kesederhanaan mereka,” kata Suvash Jengcham, seorang penulis Garo, budayawan dan seorang Katolik. “Agama Katolik memberikan mereka harapan.”
Para misionaris Protestan bersikap keras terhadap suku itu, dan berupaya membasmi lagu-lagu dan tarian tradisional, serta minum bir beras ketika mereka memasuki wilayah Garo pada pergantian abad ke-20, kata Jengcham.
Sebaliknya, Gereja Katolik mencoba menggabungkan ajarannya ke dalam tradisi suku itu.
“Para misionaris asing dan lokal selain mendirikan gereja-gereja, mereka juga mendirikan sekolah-sekolah dan asrama untuk pendidikan, kata Pastor Robert Makhin, yang menulis sebuah buku tentang sejarah orang-orang Garo di Bangladesh.
“Yang paling penting adalah membantu mereka melestarikan budaya dan tradisi Garo di Gereja,” katanya.
Garo adalah salah satu kelompok etnis matriliniel paling langka di dunia berdasarkan sistem keluarga perempuan di mana ayah akan pergi mencari nafkah dan ibu akan tinggal di rumah mengurusi rumah tangga dan karena itu dianggap sebagai kepala keluarga. Hingga saat ini, anak-anak Garo masih menggunakan nama ibu mereka.
Sumber: Tribe mixes tradition with the Bible to preserve way of life

Sri Sultan: Kini sukar mendapat tokoh nasional Katolik

18/12/2012 Sri Sultan: Kini sukar mendapat tokoh nasional Katolik thumbnail

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyoroti kelemahan pendidikan kader sebagai penyebab sulitnya orang-orang Katolik saat ini yang tampil sebagai tokoh-tokoh nasional dibanding dengan pada masa-masa awal kemerdekaan.
“Bahkan, nyaris tidak ada aktivitas orang muda Katolik yang mengarahkan mereka pada peran dan tanggung jawab dalam politik. Hal ini berbeda dengan pada masa-masa awal kemerdekaan, dimana kala itu, banyak sekali tokoh-tokoh Katolik yang mengambil peran sentral,” katanya saat memberi keynote speech dalam acara Dies Natalis ke-67 Pemuda Katolik di Kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Minggu, (16/12).
Menurut Sultan, saat ini tidak ada pendidikan yang mumpuni bagi kader-kade Katolik sehingga tidak muncul tokoh seperti IJ Kasimo, tokoh politik pejuang kemerdekaan yang dianugerahi gelar pahlawan tahun ini dan Mgr Soegijapranata SJ, uskup pribumi pertama yang turut berperan mengusir penjajah Belanda dan terkenal dengan semboyannya, ‘menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia’ serta sejumlah tokoh lain selama era pemerintahan Presiden  Soekarno dan Presiden Soeharto.
“Jika dahulu ada Kasimo, Soegijapranata dan kawan-kawan, maka kini, bangsa ini merindukan munculnya tokoh-tokoh Katolik di tingkat nasional yang sekaliber mereka”, kata Sultan.
Ia menambahkan,  pernyataan bahwa ‘generasi muda adalah masa depan, harapan dan tulang punggung Gereja’ hanya sebatas wacana.
“Belum banyak tindakan konkret oleh orang muda dan usaha dari orang muda Katolik sendiri untuk berbuat sesuatu yang didukung oleh para tokoh senior politisi Katolik dan Gereja”.
Ia menjelaskan, sebuah keniscayaan bila Gereja Katolik mampu mencetak pemimpin-pemimpin yang bekerja karena menjadi panggilan hatinya, menjadi pemimpin yang tegas, tidak otoriter, mampu menjamin terbangunnya iklim demokrasi yang kuat dan merawat keberagaman yang menjadi ciri Indonesia.
Ketua Umum Pemuda Katolik Agustinus Tamo Mbapa, mengakui memang pendidikan kader-kader Katolik masih  belum ditata dengan baik.
“Selain itu, ada semacam keterputusan atau tidak ada regenerasi pendidikan kader dari generasi tua ke generasi muda”, ungkapnya.
Mbapo juga melihat peran Gereja yang cukup intens pada zaman dahulu dalam mendampingi kader-kader Katolik.
“Orang-orang muda Katolik betul-betul diperhatikan oleh Gereja, berbeda dengan situasi beberapa tahun terakhir”.
Namun, ia menjelaskan, saat ini Pemuda Katolik sedang terus memperluas jaringan kerja sama dengan pihak hirarki Gereja dan juga dengan lembaga-lembaga lain.
Sementara itu, Ketua Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligerja Indonesia (KWI), Mgr Yustinus Harjosusanto MSF mengatakan, saat ini Gereja memang tidak memiliki lembaga khusus untuk mendidik kader-kader Katolik, tetapi menyerahkan hal itu pada organisasi-organisasi dan partai politik.
“Meski demikian, tentu saja Gereja tetap memperhatikan umatnya yang menjadi politikus”, katanya kepada ucanews.com ketika ditemui di sela-sela acara.
Uskup Tanjung Selor ini mengakui memang banyak orang Katolik yang menjadi politikus, namun hanya sedikit yang menjiwai semangat kekatolikan.
“Semangat kekatolikan itu kan mengedapankan nilai-nilai kebenaran, keadilan, kejujuran dan juga keberpihakan pada orang-orang kecil. Namun, sekarang hal itu belum menjadi spirit dari orang-orang Katolik yang menjadi politikus”, tegasnya.
Ia menjelaskan, selama ini Komisi Kerawam memang berupaya memfasilitasi pertemuan politisi-politisi Katolik, yang biasa diadakan setiap bulan untuk meningatkan mereka akan jati diri sebagai orang Katolik.
“Kalau orang-orang Katolik hasil didikan organisasi dan yang menyebar di partai-partai politik menghayati nilai-nilai kekatolikan dalam menjalankan profesi mereka, maka tentu gelar sebagai tokoh nasional akan datang dengan sendirinya. Hanya saja, ini masih menjadi persoalan Gereja saat ini, yang mesti disikapi secara serius”, tegasnya.
Ryan Dagur, Yogyakarta


Sumber  http://indonesia.ucanews.com/2012/12/18/sri-sultan-kini-sukar-mendapat-tokoh-nasional-katolik